Sabtu, 03 April 2010

Potensi Pertanian di Kalimantan Selatan


Sektor pertanian merupakan sektor yang masih dominan dalam sektor-sektor ekonomi pembentuk PDRB, karena sektor ini memberikan kontribusi sebesar 24,55% terhadap PDRB yang meliputi subsektor tanaman pangan, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan. Sektor pertanian merupakan sektor basis/dasar untuk kemajuan ekonomi wilayah, karena ia mampu menyediakan komoditas-komoditas yang dapat diolah menjadi barang/produk yang bernilai ekonomi lebih tinggi. Disamping itu, sector pertanian juga merupakan andalan dalam penyerapan tenaga kerja, dimana sekitar 50 % seluruh angkatan kerja diserap sektor ini.
Sub Sektor Tanaman Pangan Subsektor tanaman pangan yang menjadi unggulan Kalimantan Selatan adalah padi yang dapat dikembangkan diseluruh kabupaten/kota di Kalimantan Selatan kecuali Kota Banjarmasin. Sejak tahun 2006 Kalimantan Selatan tercatat telah mengalami surplus produksi beras yang pada tahun 2006 mencapai sebesar 426.094 ton, tahun 2007 sebesar 641.721 ton, dan tahun 2008 mengalami surplus sebesar 656.573 ton (Angka Ramalan Sementara).
Secara keseluruhan produksi, maupun produktvitas padi di Kalimantan Selatan selama 5 tahun dari 2005 – 2009 mengalami kenaikan dengan total pertumbuhan 25,87 % atau sekitar 6,47 % per tahun.
Begitu pula untuk luas panen tanam padi di Kalimantan Selatan juga mengalami hal yang sama dimana peningkatannya mencapai 9,79 % atau sekitar 2,45 per tahun. Kinerja sub sektor Tanaman Pangan dilihat dari Pertumbuhan Produksi Tanaman Pangan dan Holtikultura pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 dapat dilihat sebagai berikut ini :
Pertumbuhan Produksi Tanaman Pangan dan Holtikulturan 2005 – 2009.
Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4
No.
Komoditas
Tahun
% Total Prtmbhn
Prtmbhn Prthn %
2005
2006
2007
2008
2009*
1
Padi
1.598.835
1.636.840
1.953.868
1.954.283
2.012.399
25,87
6,47
2
Jagung
48.082
58.283
100.957
95.044
97.326
102,42
25,60
3
Kedelai
2.548
2.138
2.060
3.817
4.869
91,09
22,77
4
Kacang Tanah
16.793
15.759
18.214
16.476
16.645
0,88
0,22
5
Kacang Hijau
1.750
1.166
1.548
1.529
1.542
11,89
2,97
6
Ubi Kayu
77.904
82.389
117.322
119.085
139.093
78,54
19,64
7
Ubi Jalar
23.995
26.335
31.143
25.903
31.953
33,17
8,29
8
Sayuran
36.158
47.059
55.299
62.668
-
73,32
18,33
9
Buah-buahan
304.466
262.888
244.231
259.975
-
14,61
3,65

Perkembangan Jagung di Lahan Lebak
Pertumbuhan Luas Panen Tanaman Pangan 2005 - 2009
Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4
No.
Komoditas
Tahun
% Total Prtmbhn
Prtmbhn Prthn %
2005
2006
2007
2008
2009*
1
Padi
459.541
462.672
505.846
507.319
504.527
9,79
2,45
2
Jagung
15.595
17.042
22.241
20.116
21.045
34,95
8,74
3
Kedelai
2.115
1.840
1.806
3.260
4.027
90,40
22,60
4
Kacang Tanah
14.642
13.900
15.842
14.161
13.689
(6,51)
(1,63)
5
Kacang Hijau
1.626
1.139
1.517
1.482
1.442
(11,32)
(2,83)
6
Ubi Kayu
5.853
6.050
8.192
8.123
9.414
60,84
15,21
7
Ubi Jalar
2.417
2.603
2.691
2.417
2.918
20,73
5,18
8
Sayuran
7.578
7.503
8.806
13.525
-
78,48
19,62
9
Buah-buahan
20.427
13.881
16.231
15.322
-
(24,99)
( 6,25)


Lokasi di Kabupaten Tanah Laut

Pengembangan Sentra Agribisnis Pisang
Sebagai  perbandingan kemajuan yang dicapai terhadap produktivitas pertanian, khususnya padi maka dapat dilihat dari ekpose Badan Pusat Statistik Kalimantan Selatan dilihat dari Angka Tetap Padi / Palawija tahun 2008 dan Angka Ramalan II Padi / Palawija tahun 2009 adalah sebagai berikut :
ANGKA TETAP  PADI/PALAWIJA 2008 DAN ANGKA RAMALAN II PADI/PALAWIJA 2009
  • Pada tahun 2008 produksi padi (Angka Tetap 2008) Provinsi Kalimantan Selatan mencapai 1,95 juta ton GKG dan pada tahun 2009 diperkirkan mencapai 2,01 juta ton GKG.
  • Komoditi padi/palawija yan diramalkan mengalami kenaikan produksi pada tahun 2009 adalah padi sawah, kedeali, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, da ubi jalar. Sedangkan yang mengalami penurunan produksi hádala padi Madang.
  • Produksi pada tahun 2008 mengalami sedkit kenaikan dari tahun 2007 yaitu 0,02 persen. Kenaikan ini dikarenakan kenaikan luas panen sebsar 1.473 ha atau naik 0,29 persen meski produktivitas menurun sebesar 0,11 ku/ha atau turun 0,28 persen.
Perkembangan angka produksi padi dan palawija yang secara rutin dilaporkan BPS dan Departemen Pertanian dapat dijadikan sebagai salh salah satu dasar bagi pemerintah untuk melakukan kebijakan-kebijakan yang akan diterapkan dalam pembangunan pertanian yang sesuai dengan kondisi petani. Paa tahun 2006 produksi apdi sawah dan padi lading (ATAP 2008) Provinsi Kalimantan Selatan mencapai 1,95 ton GKG dan pada tahun 2009 diperkirakan mencapai 2,01 ton GKG (ARAM II 2009).
PADI SAWAH
Uraian
ATAP 2007
ATAP 2008
ARAM I 2009
ARAM II 2009
(1)
(2)(3)(4)(5)
Luas Panen (Ha)458.995
455.721
459.853459.641
Hasil Per Hektar (ku/ha)39,88
39,71
40,03
41,02
Produksi (ton)1.830.409
1.809
1.809.584
1.885.367

Angka tetap tahun2008 produksi sawah mengalami sedikit penurunan dibangkan tahun 2007 yaitu 20.825 ton atau turun 1,14 persen. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan luas panen sebesar 3.274 ha atau turun sebesar 0,71 persen. Disamping itu penuruna produktivitasjuga mempunyai andil dalam menurunkan produksi padi yaitu dari 39,88 ku/ha tahun 2007 menjadi 39,71 ku/ha pada tahun 2008 atau turun sebesar 0,43 persen.
Penyebab penurunan luas panen pada tahun 2008 dibandingkan tahun2007 disebabkan terkendalanya penanaman di lahan lebar seperti di Kabupaten Tapin  dan Hulu Sungai Selatan.
PADI LADANG
Uraian
ATAP 2007
ATAP 2008
ARAM I 2009
ARAM II 2009
(1)
(2)(3)(4)(5)
Luas Panen (Ha)46.851
51.598
54.81444.886
Hasil Per Hektar (ku/ha)26,35
28,04
29,12
28,30
Produksi (ton)123.459
144.699
159.625
127.032
Produksi padi ladang tahun 2008 (ATAP 2008) mencapai 144.699 ton  mengalami kenaikan dari ATAP 2007 yang sebesar 123.459 ton. Produksi mengalami kenaikan sebesar 21.240 ton atau naik 17,20 persen, kenaikan produksi ini dikarenakan adanya kenaikan luas panen sebesar 4.747 ha atau 10,13 persen.
Sedangkan produktivitas juga mengalami kenaiakan  dari 26,35 ku/ha tahun 2007 menjadi 28,04 ku/ha. Terjadinya kenaikan luas panen ini karena adanya perubahan penggunaan lahan, dari yang sebelumnya ditanami kacang tanah, berpindah menjadi ditanami padi ladang. Kondisi curah hujan yang cukup tinggi sepanjang tahun 2008 lebih merangsang petani untuk menanam padi ladang yang perawatannya lebih mudah  dibandingkan kacang tanah.
Produksi padi ladang pada tahun 2009  diperkirakan akan mencapai 127.032 ton atau mengalami penurunan 12,21 persen dari produksi tahun 2008. Penurunan produksi ini dipicu oleh penurunan luas panen sebanyak 6.172 ha atau turun 13,01 persen. Penurunan luas panen terjadi diperkirakan tidak ada lagi penanaman pada bulan Mei. Pada beberapa Kabupaten pada lahan kering mengalami alih fungsi lahan seperti di Kabupaten Tapin di Kecamatan Piani, Hatungan, Tapin Uatara dan Lok Paikat, lahan pertanian beralih fungsi menjadi perkebunan karet dan lahan batu bara/stockfile.
PADI (SAWAH + LADANG)
Uraian
ATAP 2007
ATAP 2008
ARAM I 2009
ARAM II 2009
(1)
(2)(3)(4)(5)
Luas Panen (Ha)505.846
507.319
514.667504.527
Hasil Per Hektar (ku/ha)38,63
38,52
38,86
39,89
Produksi (ton)1.953.8681.954.283
2.000.239
2.012.399
Secara total produksi padi (sawah + ladang) tahun 2008 mencapai 1.954.283 ton (ATAP 2008) sedikit mengalami kenaikan dibandingkan  dari ATAP 2007. Produsi naik sebesar 415 ton. Kenaikan produksi ini dikarenakan adanya peningakatan luas panen sebesar 1.473 ha atau naik 0,29 persen meski produktivitas menurun sebesar 0,11 ku/ha atau turun 0,28 persen.
JAGUNG
Uraian
ATAP 2007
ATAP 2008
ARAM I 2009
ARAM II 2009
(1)
(2)(3)(4)(5)
Luas Panen (Ha)22.241
20.116
20.37421.405
Hasil Per Hektar (ku/ha)45,39
47,26
46,51
46,25
Produksi (ton)100.957
95.064
94.769
97.326
Produksi jagung pada tahun 2008 mencapai 95.064 ton (ATAP 2008) mengalami sedikit penurunan dari produksi 2007. Produksi turun sebesar 5.893 ton atau turun 5,84 persen. Penurunan produksi ini disebabkan karena adanya penurunan luas panen yang cukup besar yaitu 2.125 ha meskipun hasil perhektar meninngkat 1,87 ku/ha. Penurunan luas panen ini disebabkan oleh panen muda yang dilakukan  oleh petani sentar jagung di Kabupaten Tabalong, Kotabaru dan Banjar. Pada tahun 2009 diperkirakan produksi jagung akan mencapai 97.326 ton. Hasil produksi ini meningkat, yaitu sebesar 2.262 ton dibandingkan produksi tahun yang lalu.
KEDELAI
Uraian
ATAP 2007
ATAP 2008
ARAM I 2009
ARAM II 2009
(1)
(2)(3)(4)(5)
Luas Panen (Ha)1.806
3.260
3.9214.027
Hasil Per Hektar (ku/ha)11,14
11,17
12,2712,09
Produksi (ton)2.063.8174.814.869

Pada tahun 2008 (ATAP 2008) produksi kedelai mencapai 3.817 ton, lebih tinggi dari tahun 2007 yang sebesar 2.060 ton. Peningkatan ini didukung oleh dilaksanakannya program UPSUS kedelai.
Pada tahun 2009 produksi diperkirakan akan mengalami kenaikan sebesar 1.052 ton atau 27,56 persen. Hal ini disebabkan adanya kenaikan luas panen sebesar 767 ha dan produktivitas sebesar 0,38 ku/ha karena adanya program BLBU (Bantuan Langsung Benih Unggul). Perkiraan produksi yang meningkat pada tahun 2009 ini karena masih dilanjutkan progarm UPSUS kedelai dan insentif yang diterima petani seiring semakin meningkatnya harga kedelai.
KACANG TANAH
Uraian
ATAP 2007
ATAP 2008
ARAM I 2009
ARAM II 2009
(1)
(2)(3)(4)(5)
Luas Panen (Ha)15.842
14.161
14.65013.689
Hasil Per Hektar (ku/ha)11,5011,6311,95
12,16
Produksi (ton)18.214
16.476
1.809.584
1.885.367
Pada periode 2007-2008 penurunan  pada produksi kacang tanah terjadi disebabkan karena iklim. Curah hujan yang cukup tinggi mengakibatkan pertanaman kacang tanah di lahan lebak tidak maksimal, Serta disebabkan bergesernya penggunaa lahan kacan tanah menjadi lahan padi ladang. ATAP 2008 memperlihatkan terjadinya penuruna dibandingkan dengan ATAP 2007. Dibanding produksi tahun 2007 produksi kacng tanah turun 1.738 ton atau 9,54 persen. Penuruna ini lebih disebabkan oleh turunnya luas panen yang mencapai 1.681 ha atau 10,61 persen. Walaupun hasil perhektar mengalami kenaikan sebesar 0,13 ku/ha tetapi hal tersebut masih belum bisa mengurangi penurunan produksi yang terjadi karena peningkatan yang terjadi relatif kecil (1,13 persen).
KACANG HIJAU
Uraian
ATAP 2007
ATAP 2008
ARAM I 2009
ARAM II 2009
(1)
(2)(3)(4)(5)
Luas Panen (Ha)1.517
1.482
1.5101.442
Hasil Per Hektar (ku/ha)10,2010,3110,83
10,69
Produksi (ton)1.548
1.529
1.635
1.542

Produksi kacang hijau tahun 2008 sebesar 1.529 ton (ATAP 2008). Produksi turun sedikit sebesar 19 ton atau 1,23 persen. Andil dari penurunan produksi ini adalah luas panen yang turun dari 1.517 ha tahun 2007 menjadi 1.482 ha atau turun 2,31 persen. Meskipun produktivitas  naik 0,11 ku/ha atau 1,08 persen tetapi hal tesebut belum bisa menyebabkan kenaikan terhadap produksi kacang hijau pada tahun 2008. Penyebab turunnya produksi kacang hijau pada taun 2008 ini disebabkan tingginya curah hujan yang berakibat luas panen di daerah lebak seperti Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah menjadi kurang maksimal.
Pada ARAM II 2009 produksi diperkirakan akan mengalami peningkatan dari tahun 2008 walaupun kenaikannya relatif kecil. Produksi diperkirakan akan mengalami kenaikan sebesar 0,85 persen sehingga pada tahun 2009 diharapkan produksi akan mencapai 1.542 ton. Di Kalimantan Selatan tanaman ini berkembang hanya secara alami  sehingga kurang optimal.
UBI KAYU
Uraian
ATAP 2007
ATAP 2008
ARAM I 2009
ARAM II 2009
(1)
(2)(3)(4)(5)
Luas Panen (Ha)8.205
8.123
8.6619.414
Hasil Per Hektar (ku/ha)142,99146,60146,44
147,75
Produksi (ton)117.322
119.085
126.830
139.093
Produksi ubi kayu tahun 2008 sedikit lebih tinggi dari produksi tahun 2007. Kenaikan produksi sebesar 1.763 ton atau 1,50 persen. Kenaikan produksi ini dipicu oleh naiknya hasil per hektar yaitu 3,61 ku/ha atau 2,52 persen, meskipun luas panen sedikit mengalami penuruna yaitu sebesar 82 ha (turun sebesar 1,00 persen). Peningkatan hasil per hektar ini disebabkan program perbaikan varietas ubi kayu di Kabupaten Tanah Laut sebagai upaya pemenuhan kebutuhan pabrik pengolahan tepung tapioka.
Bila dibandingkan dengan angka ATAP 2008, produksi ubi kayu tahun 2009 (ARAM II 2009) juga diperkirakan akan mengalami peningkatan. Peningkatan produksi tahun 2009 diperkirakan sebesar 20.008 ton atau 16,80 persen, sehingga produksi menjadi 139.093 ton
UBI JALAR
Uraian
ATAP 2007
ATAP 2008
ARAM I 2009
ARAM II 2009
(1)
(2)(3)(4)(5)
Luas Panen (Ha)2.691
1.482
1.5101.442
Hasil Per Hektar (ku/ha)11,73107,17117,33
109,50
Produksi (ton)31.143
25.903
31.816
31.953
Produksi ubi jalar 2008 mencapai 25.903 ton (ATAP 2008). Penurunan ini dipicu oleh penurunan luas panen dan juga penurunan produktivitas. Luas panen pada tahun 2008 sebesar 2.417 ha turun sebesar 274 ha dibandingkan tahun 2007 yang sebesar 2.691 ha. Produktivitas turun dari 115,73 ku/ha  pada tahun 2007 menjadi 107,17 ku/ha pada tahun 2008. Penurunan ini terjadi karena pertanaman ubi jalar di daerah lebak yaitu di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Utara berkurang pada sub round Mei-Agustus karena curah hujan yang cukup tinggi sehingga permukaan air masih tinggi sehingga tidak memungkinkan  untuk bertanam ubi jalar.
Kesediaan dan Distribusi Tak Bermasalah
Pangan di Kalsel Aman SOAL ketahanan pangan, di Kalsel termasuk daerah yang tidak bermasalah di Indonesia. Ketersediaan pangan nabati seperti komoditi padi, beras, kacang tanah, ubi kayu, ubi jalar dan buah-buahan termasuk berlimpah ruah. Begitu pula ketersediaan pangan hewani, tak begitu jauh berbeda dengan pangan nabati.
"Intinya, untuk ketahanan pangan, di Kalsel termasuk daerah yang aman. Antara produksi, ditribusi, dan ketersediaan selalu mencukupi. Ini artinya, seluruh masyarakat di Kalimantan Selatan selama ini tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh bahan pangan," kata Kepala Badan Ketahanan Pangan Kalsel Hardi L Mantir.
Situasi ketahanan pangan yang kondusif dan terjaga tersebut, tentu saja tidak bisa dilepaskan dari kebijakan yang diluncurkan Gubernur Kalsel Rudy Ariffin sejak memimpin daerah ini mulai tahun 2005 lalu. Sejak awal Rudy Ariffin terkait masalah ketahanan pangan ini sudah menetapkan visi, "Terwujudnya ketahanan pangan yang TERSENYUM (tersedia, seimbang, nyaman, aman dan mantap) menuju masyarakat yang sejahtera". Sebagai bukti, maka selama ini dapat disyukuri bahwa masyarakat Kalimantan Selatan tidak mengalami rawan pangan.
"Melalui visi itu, misi ketahanan pangan pun ditetapkan untuk meningkatkan pemberdayaan dan kemandirian masyarakat/petani mulai tingkat rumah tangga, daerah dan nasional secara berkelanjutan," paparnya.
Tentu, melihat realitas komudisi pangan nabati di Kalsel, tak bisa hanya sekedar jargon atau klaim semata. Namun, angka-angka pertumbuhan ketersediaan yang selama ini telah dicapai. Untuk padi misalnya, dari tahun ke tahun mengalami surplus yang cukup memukau. Dari tahun 2001 sampai tahun 2008 misalnya terjadi pertumbuhan mencapai 101,23 persen. Begitu pula dengan beras angkanya di atas 100 persen.
Menariknya, jika di daerah lain sering terdengan terjadi kerawanan pangan, untuk di Kalsel hampir semua kabupaten berada dalam kondisi cukup tahan pangan. Memang berdasarkan pemetaan secara nasional, Banjarmasin dan Banjarbaru dikategorikan daerah yang cukup rawan pangan.
"Namun, penilaian tersebut sebenarnya kurang pas, karena dua daerah ini bukalah wilayah produksi pangan, baik nabati maupun hewani. Dua daerah ini hanyalah tempat distribusi pangan dari tempat lain," kata Hardi.
Ketersediaan bahan pangan di Kalsel lebih dari cukup, tetapi tentu hal itu tak membuat puas Pemprov Kalsel. Beberapa program pun diluncurkan utnutk lebih meningkatkan ketahanan pangan dan gizi masyarakat. Diantaranya pembentukan Desa Mandiri Pangan, Pembangunan Lumbung Pangan dan Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP).
Program-program tersebut ditujukan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan gizi (mengurangi kerawanan pangan) melalui sumber daya, kelembagaan dan budaya lokal di pedesaan.
Untuk pelaksanaan program aksi Desa Mandiri Pangan, pada tahun 2006 lalu 31 kelompok afinitasdi Kabupaten Tabalong, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, dan Tanah menjadi sasaran program ini.
Pada tahun 2007, 52 kelompok efinitas di Kabupaten Tabalong, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan. Tanah Laut, Banjar, dan Barito Kuala telah dilakukan pengembangan ketahanan pangan. Kemudian, pada tahun 2008, 26 kelompok afinitas di kabupaten yang sama masuk dalam proses penumbuhan ketahanan pangan.
Nah, utnuk menunjang ketahanan pangan di daerah-daerah yang dianggap rawan, Pemprov Kalsel sejak 2009 telah meluncurkan program dana bantuan sosial utnuk pembangunan lumbung pangan. Sedikitnya Rp390 juta pada Agustus 2009 lalu telah disalurkan ke 13 desa di 13 kecamatan di 7 kabupaten/kota di Kalsel.
Sedangkan untuk jumlah bantuan LUEP (APBN-APBD) dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang ckup signifikan, terutama dari pos APBD Kalsel. Untuk tahun 2008 misalnya dialokasikan sebesar Rp6.908.000.000 dalam tahun 2009 sebesar Rp12.499.200.000.
Dana bantuan LUEP tersebut didistribusikan ke 11 kabupaten di Kalsel, yaitu Tabalong, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Banjar, Tanh Laut, Tanah Bumbu, Kotabaru, Barito Kuala dan Balangan.
Tak sekedar itu, Pemprov Kalsel juga menjalankan program Penguatan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (P-LDMP) pada tahun 2009. Dana dengan masing-masing sebesar Rp150 juta disalurkan ke 18 gabungan kelompok tani (Gapoktan) di 12 kabupaten/kota.
Ketersediaan Dijaga
TAK selamanya soal ketahanan pangan di suatu daerah selalu aman dan terkendali. Termasuk di Kalsel. Beberapa persoalan ternyata juga terjadi. Meski skalanya tidak telalu besar, tetapi masalah tersebut jika tak diantisipasi, bisa memunculkan kekhawatiran.
Masalah ketahanan pangan, seperti diungkapkan Kepala Badan Ketahanan Pangan Kalsel Hardi L Mantir, terjadi karena beberapa global (climate change) yang mengakibatkan terjadinya bencana alam seperti kekeringan dan banjir, peningkatan permukaan laut dan perubahan musim yang tak menentu.
Peristiwa alam semacam itu sering terjadi dan tidak ada pihak yang menghendaki. "Peran pemerintah adalah melakukan antisipasi dan fasilitasi jika terjadi bencana seperti itu. Sedikit banyaknya, bencana sangat berpengaruh terhadap kondisi ketersediaan pangan di suatu daerah," ujarnya.
Faktor lainnya, karena rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang pangan beragam, bergizi dan berimbang serta sumber daya pangan lokal khususnya sumber karbohidrat yang belum digali secara optimal.
Masalah ini bia diatasi dengan progam-program pendampingan dan bantuan yang telah direncanakan.
"Tugas kita (Badan Ketahanan Pangan), sesuai dengan Undang-Undang No.7 tahun 1996 tentang pangan, adalah mengondisikan terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik, jumlahnya maupun moto, merata dan terjangkau," katanya.
Nah, lanjut Hardi, untuk tahun 2010 mendatang, tahun dimana berakhirnya masa kepemimpinan Gubernur Kalsel sekarang H Rudy Ariffin, target yang ingin dicapai adalah meningkatkan ketersediaan pangan dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki secara berkelanjutan.
Selain itu, pengembangan sistem distribusi, cadangan dan akses pangan untuk turut serta memelihara stabilitas pasokan dan harga pangan bagi masyarakat. Mempercepat penganeka ragaman konsumsi pangan dan gizi guna meningkatkan  kualitas SDM dan penurunan konsumsi beras per kapita. "Kita ingin, ketahan pangan di Kalsel selalu aman, mantap dan terkendali," ujarnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar