Kamis, 22 Juli 2010

Lomba Jukung

Lomba jukung(Perahu) naga hias , budaya masyarakat Banjarmasin.

jukung hias Lomba jukung(Perahu) naga hias , budaya masyarakat Banjarmasin.

Salah satu bentuk upaya melestarikan budaya Banjar adalah dengan diselenggarakannya  Festival Tahunan Jukung Hias, biasanya bertepatan dengan Hari Jadi Kalimantan Selatan dan Hari Kemerdekaan Republik Indonesai. Festival ini diadakan di atas aliran sungai Martapura. Dalam festival ini, peserta harus menghias jukungnya seindah mungkin dengan berbagai ornamen dan bentuk yang menarik seperti kepala naga, replika rumah Banjar, dan lain – lain yang dipadukan dengan lampu-lampu hias (tanglong) warna warni.
jukung hias 2 Lomba jukung(Perahu) naga hias , budaya masyarakat Banjarmasin.Penilaian terhadap peserta dilaksanakan 2 kali yaitu siang dan malam hari. Siang hari jukung – jukung itu dinilai dari keindahan bentuk dan hiasannya,tidak jarang para peserta itu juga menampilkan kesenian khas banjar untuk lebih mendukung penampilan jukung mereka.
Pada malam hari peserta juga dinilai dari keindahan tanglong (lampu hias) yang dipasang dijukung para peserta. Suasana semarak kemilau warna-warni  dari jukung-jukung tersebut juga akan terpantul permukaan Sungai Martapura  yang mengalun tenang. Pada saat itu, warga Banjarmasin seakan tumpah ruah dan memadati tepian sungai Martapura atau sering disebut dengan pantai jodoh untuk menyaksikan pemandangan yang indah dan menarik ini.

Selasa, 22 Juni 2010

BANJARMASIN dan Lampu Disko PLN

Ada satu hal yang menarik dan menggelitik tentang Banjarmasin, seperti yang saya baca di harian Banjarmasin Post...:


Krisis Listrik di Luar Nalar 
Selasa, 22 Juni 2010
Oleh: Pujo Nugroho*

KEPALA Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Pusat, Gita Wirjawan, ketika berada di Kalsel terheran-heran listrik di daerah ini byarpet.

Siapa pun pejabat atau pengusaha dari luar jika datang ke Kalsel juga akan terheran-heran dengan keadaan --yang kita sendiri (warga Kalsel) sudah sangat biasa-- yaitu listrik mati! 

Sudah hampir seminggu ini isu listrik menjadi berita utama di media masa. Dari permasalahan lokal hingga nasional. Baru-baru ini PLN melalui dirutnya, Dahlan Iskan, melemparkan wacana penggratisan listrik untuk kelas bawah (daya rendah).

Isu tersebut ditanggapi sinis oleh banyak kalangan. Beberapa anggota DPR menyebut Dahlan Iskan asal bunyi. Menteri ESDM pun meluruskan bahwa listrik gratis hanya wacana pribadi Dahlan Iskan.

Minggu ini kita juga mendengar berita bahwa pemerintah telah menaikkan TDL (tarif dasar listrik). DPR pun menyetujui rencana tersebut.

Sedang berita dari lokal mengabarkan, Pemkab Kotabaru berencana mengizinkan penambangan, salah satunya untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah tersebut. Tak pelak rencana tersebut menimbulkan kontroversi mengingat Kotabaru adalah pulau kecil.

Jika DPR mencibir rencana penggratisan listrik dan kemudian malah setuju dengan kenaikan TDL, mungkin itulah cara berpikir wakil rakyat! Orang-orang yang pintar, berdasi, bermobil mahal, dan dengan segala fasilitas mewahnya.

Di sisi lain, media dalam hal ini salah satunya Banjarmasin Post dalam salah tajuknya (20/6/2010) menyarankan untuk tidak mematikan gagasan merakyat seperti itu.

Kami sebagai rakyat biasa memang tidak serumit wakil rakyat atau pemerintah dalam memikirkan permasalahan listrik. Kami hanya berpikir bahwa kewajiban membayar rekening tiap bulan sudah kami penuhi.

Kami hanya ingin hak kami juga dipenuhi, listrik jangan sering mati! Kami hanya ingin merasa nyaman dengan hak kami, anak-anak belajar nyaman, usaha tidak merugi, tetap bisa mendapatkan informasi dan hiburan melalui media elektronik, dan tidak khawatir dengan ancaman kebakaran.

Kapankah hak kami itu terpenuhi? Apakah masalah krisis listrik memang di luar nalar tanpa solusi karena tak kunjung usai?


Mati di Lumbung 

Menurut Ketua BKPM Pusat Gita Wirjawan, sulit dimengerti Kalsel yang secara nasional bahkan internasional terkenal sebagai pengekspor batu bara terbesar tetapi listrik di daerahnya sering padam. 

Memang seperti yang kita ketahui, listrik di Kalselteng sebagian besar ‘dibangkitkan’ dengan tenaga uap (PLTU). PLTU sendiri berbahan bakar batu bara. Kita sendiri tidak mengerti bagaimana sebenarnya politik pengelolaan energi, khususnya di Kalsel.

Secara sederhana, jika Kalsel adalah salah satu penghasil batu bara terbesar mestinya tidak ada masalah dengan pemenuhan listriknya. Tapi entah mengapa kita masih tetap saja mengalami krisis listrik.

Pertanyaan yang seperti itulah yang meluncur dari mulut Gita Wirjawan. “Sejak dalam perjalanan, saya tidak habis pikir. Apa penyebabnya byarpet di daerah ini,” katanya. Padahal, imbuh dia, banyak orang di Jakarta selalu mengagung-agungkan daerah ini karena kekayaan alamnya berupa batu bara yang melimpah. Sehingga menjadi primadona para pemilik modal, untuk investasi maupun mengeruk emas hitam tersebut dengan sebesar-besarnya untuk kepentingan bisnis.

“Orang-orang di Jakarta, bahkan mungkin di luar negeri sangat mengenal Kalsel tentang batu baranya. Ternyata, kekayaan itu tidak mampu memenuhi kebutuhan daerah sendiri,” cetusnya. (Banjarmasin Post 18/6/2010).

Pada siaran persnya Dahlan Iskan pernah mengatakan, bahwa PLN hingga kini belum memiliki satu pun kuasa pertambangan (KP) batu bara sebagai sumber bahan baku pembangkit listrik. Sehingga ketergantungan PLN kepada pemasok batu bara mencapai seratus persen.

Ironisnya, perusahaan-perusahaan listrik asing seperti India dan Thailand justru memiliki KP di Indonesia. Hasil pemantauan PLN, lahan batu bara sudah habis ‘dibagikan’ kepada para pengusaha swasta dan asing (detikfinance.com 18/4/2010).

Dari sini kita mengetahui bahwa PLN sangat tergantung pemasok dari luar. Dan, ketergantungan tersebut adalah ketergantungan total! Karenanya wajar saja jika Dahlan Iskan pernah meminta kepada pemerintah untuk membatasi ekspor batu bara dan menjamin ketersedian untuk PLN dan juga konsumen lainnya di Tanah Air.

Ketergantungan kebutuhan listrik nasional kepada pihak swasta dan asing tentu sangat rawan. Sungguh sangat ironi. Sebuah perusahaan negara yang mempunyai kewajiban memenuhi listrik seluruh rakyat Indonesia, tetapi tidak mempunyai tambang batu bara di negaranya sendiri.

Oleh sebab itu, permasalahan listrik di daerah kita bukan saja persoalan teknis kerusakan mesin atau ketergantungan dengan teknisi WNA, tapi juga merupakan permasalahan mendasar. Yaitu persoalan sistem dan kebijakan nasional yang juga menyangkut kebijakan energi dan migas.

Bagaimana mungkin persoalan listrik itu akan tuntas sedang UU Migas (minyak dan gas), UU Minerba (mineral dan batu bara), dan UU PMA (penanaman modal asing) sangat liberal dan kapitalistik? 

* Alumni Fakultas Teknik Unlam



Minggu, 06 Juni 2010

Masjid Agung Al Karomah

Masjid Agung Al Karomah adalah masjid besar yang terletak di Kota Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan dan merupakan masjid terbesar di Kalimantan Selatan. Masjid ini juga merupakan markah tanah dari Kota Martapura karena mudah diakses dari seluruh kota di Kalimantan Selatan karena terletak di Jl. Ahmad Yani yang merupakan jalan utama (jalan nasional) antar kota, terutama dari Kaltim (arah utara) hingga Kota Banjarmasin.

Sejarah

Sebagai pusat Kerajaan Banjar, Martapura tercatat menjadi saksi 12 sultan yang memerintah. Pada waktu itu Mesjid berfungsi sebagai tempat peribadatan, dakwah Islamiyah, integrasi umat Islam dan markas atau benteng pertahanan para pejuang dalam menantang Belanda. Akibat pembakaranKampung Pasayangan dan Masjid Martapura, muncul keinginan membangun Masjid yang lebih besar. Tahun 1280 Hijriyah atau 1863 Masehi, pembangunan Masjid pun dimulai. Menurut riwayatnya, Datuk Landak dipercaya untuk mencari kayu Ulin sebagai sokoguru masjid, ke daerah Barito,Kalimantan Tengah. Setelah tiang ulin berada di lokasi bangunan Masjid lalu disepakati.

Aristektur

Dilihat dari segi arsitekturnya, bentuk Masjid Agung Al Karomah Martapura mengikuti Masjid Demak Buatan Sunan Kalijaga. Miniaturnya dibawa utusan Desa Dalam Pagar dan ukurannya sangat rapi serta mudah disesuaikan dengan bangunan sebenarnya sebab telah memakai skala.
Sampai saat ini bentuk bangunan Masjid menurut K.H. Halilul Rahman, Sekretaris Umum di kepengurusan Masjid sudah tiga kali rehab. Dengan mengikuti bentuk bangunan modern dan Eropa, sekarang Masjid Agung Al Karomah Martapura terlihat lebih megah.
Meski bergaya modern, empat tiang Ulin yang menjadi Saka Guru peninggalan bangunan pertama Masjid masih tegak di tengah. Tiang ini dikelilingi puluhan tiang beton yang menyebar di dalam Masjid.
Arsitektur Masjid Agung Al Karomah Martapura yang menelan biaya Rp27 miliar pada rehab terakhir sekitar tahun 2004, banyak mengadopsi bentuk Timur Tengah. Seperti atap kubah bawang dan ornamen gaya Belanda. Semula atap Masjid berbentuk kerucut dengan konstruksi beratap tumpang, bergaya Masjid tradisional Banjar. Setelah beberapa kali rehab akhirnya berubah menjadi bentuk kubah.
Bila arsitektur bangunan banyak berubah, namun mimbar tempat khatib berkhutbah yang berumur lebih satu abad sampai sekarang berfungsi. Mimbar berukiran untaian kembang dan berbentuk panggung dilengkapi tangga sampai sekarang masih berfungsi dan diarsiteki H.M Musyafa.
Pola ruang pada Masjid Agung Al Karomah juga mengadopsi pola ruang dari arsitektur Masjid Agung Demak yang dibawa bersamaan dengan masuknya agama Islam ke daerah ini oleh Khatib Dayan. Karena mengalami perluasan arsitektur Masjid Agung Demak hanya tersisa dari empat tiang ulin atau disebut juga tiang guru empat dari bangunan lama.
Tiang guru adalah tiang-tiang yang melingkupi ruang cella atau ruang keramat. Ruang cella yang dilingkupi tiang-tiang guru terdapat di depan ruang mihrab, yang berarti secara kosmologi cella lebih penting dari mihrab. Sejarahnya tiang guru empat menggunakan tali alias seradang yang ditarik beramai-ramai oleh Datuk Landak bersama masyarakat. Atas kodrat dan iradat Tuhan YME tiang Guru Empat didirikan. Masjid pertama kali dibangun berukuran 37,5 meter x 37,5 meter.